This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, January 29, 2013

LIDAH SEHAT HATI SEHAT

Para pembaca yang budiman! Perhatikan bagaimana Allah menciptakan lidah. Dengan lidah itu kalian bisa merasakan apa saja. Manis, pahit, asam, getir, hambar dan lain sebagainya. Pertanyaannya, mengapa kamu bisa membedakan semua rasa itu? Ketika gula yang kalian makan, manislah rasanya. Ketika asam yang kalian kunyah, masamlah rasanya. Ketika garam yang ada di lidah, asinlah rasanya. Mengapa? Jawabannya sederhana saja. Karena kita lidah kalian SEHAT. Coba misalkan lidah kalian sakit sariawan, selain rasanya sakit dan perih, kalian juga akan tersiksa karena semua makanan dan minuman yang kalian masukkan ke mulut menjadi tidak enak.
          Ciptaan Allah yang bernama lidah itu tidak jauh beda dengan yang namanya hati. Hati juga tempat merasakan sesuatu yang abstrak. Dan apa yang terasa dalam hati itu kita sebut perasaan.
Sama halnya lidah, hati pun bisa sakit, bisa juga sehat. Hati yang sakit adalah hati yang merasa tersiksa. Selalu berperasaan tidak nyaman. Bukan hanya karena suasana yang tidak nyaman bahkan suasana yang indah pun akan terasa tidak nyaman. Itulah hati yang sakit.
Hati yang sakit akan memberi respon negatif terhadap apa yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga  dan dilakukan oleh anggota tubuhnya. Saat awal bulan saat penerimaan gaji. Hati yang sakit akan merasa selalu kurang. Merasakan ketidak adilan. Merasa kurang puas dan sebagainya. Rumah yang indah dan megah pun akan terasa sempit dan jelek manakala hati sedang sakit. Teman teman yang dekat pun akan terasa seperti musuh. Kebencian lah yang timbul dalam hatinya. Merasa iri, cemburu. Apa yang dimiliknya terkadang disombongkannya. Dan itulah semua sebagian dari penyakit hati.
Sebaliknya hati yang sehat akan senantiasa damai dengan karunia Allah yang tiada ternilai. Bahkan hati yang sehat sekali akan dipenuhi rasa sabar atau bahkan bersyukur manakala terjadi suatu peristiwa yang secara umum tidak enak. Gaji tidak naik tidak protes. Bahkan bersyukur karena masih mendapat gaji. Bagaimana seandainya kalau sudah di PHK? Bukankah habis sudah karirnya. Seandainya di PHK pun mungkin masih disyukuri karena Allah pasti akan menjadikannya lebih baik setelah keluar dari tempat kerjanya. Itulah hati yang sehat. Penuh rasa sabar dan syukur. Semoga Allah menyehatkan lidah dan hati kita semua. Amin.

Friday, January 25, 2013

BERGURU PADA MURID

Dalam pepatah jawa ada ungkapan “Kebo nyusu gudel”. Dalam bahasa indonesia diterjemahkan bebas “Kerbau menyusu pada anaknya”. Sangat jelas maknanya. Orang tua menyandarkan sesuatu kepada anaknya. Terjemah bebasnya bisa saja seorang guru yang berguru pada muridnya. Ya, kenapa tidak. Sah sah saja seorang guru yang lebih tua usianya bertanya atau menimba ilmu kepada muridnya yang masih muda usianya.
          Hari ini saya telah berguru pada murid kesayangan saya. Namanya Handaru. Sekarang dia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya semester 5. Sekitar 7 tahun yang lalu dia masih kelas 8 SMP Al Hikmah Surabaya. Tentu saja saya adalah salah seorang gurunya.
          Begini ceritanya. Menjelang sholat jumat saya menyapa dia. Lalu selepas sholat jumat saya kembali menyapanya dan duduk disebelahnya. Di dalam masjid yang masih penuh dengan jamaah, awalnya saya tanya kabarnya. Bagaimana pula kabar ayah ibu dan adik adiknya semua. Lalu dia bercerita tentang semua anggota keluarganya. Lalu saya tanyakan tentang perkuliahannya. Saat ini dia sedang menempuh semester pendek.
          Lalu masuklah saya pada hal ihwal dunia kedokteran. Saya pun tidak malu padanya untuk menanyakan banyak hal tentang dunia kedokteran. Tentang anatomi, tentang bedah, tentang spesialisasi, tentang PTT, DM, penyakit dan banyak hal yang akhirnya saya ketahui dalam durasi waktu sekitar 30 menit. Ketika masjid telah tampak sepi saya dan dia pun akhirnya harus mengakhiri obrolan asyik tadi. Rasanya tidak puas untuk mengetahui dunia kedokteran. Sambil saya temani dia menuju lobby masjid saya masih juga bertanya pada Handaru.
          Akhirnya kami pun berpisah. Saya doakan dan motivasi dia semoga segera sukses. Dia bilang, Insya Allah 5 atau 6 semester lagi dia sudah menjadi seorang dokter. Alhamdulillah. Yang tidak lupa saya pesan ke dia, sampaikan salam saya buat ayah ibu dan semua adik adiknya. Kalau ada kesempatan Insya Allah saya akan bersilaturrahiim ke kediaman dia.

Thursday, January 24, 2013

HIDUP INI ADALAH KARENA KEBETULAN

“Ibu, Mbah… saya pamit ya. Doakan saya. Saya akan merantau ke Surabaya. Saya tidak akan pulang ke desa ini kalau saya belum berhasil”…. Itulah kata-kata saya pada Ibu dan nenek saya tercinta ketika saya membulatkan tekad untuk mengubah nasib. Dari yang berpenghasilan kecil dan tidak pasti menuju penghasilan besar dan lebih pasti. “Ya nak, kami doakan kamu berhasil”, begitulah doa orang tua yang juga sangat mencintai saya.
            Bismillah! Saya pun berangkat menuju Surabaya. Tiada keraguan dalam benak saya. Tidak menoleh ke belakang lagi. Dengan hanya membawa satu tas berisi pakaian dan alquran, saya percaya diri bahwa saya Insya Allah akan berhasil.
Dengan berbekal pengalaman pernah tinggal di Surabaya sekitar 5 bulan lamanya, saya mulai menelusuri Surabaya. Setiap Sabtu saya beli Jawa Pos untuk mendapatkan informasi lowongan pekerjaan. Hari Senin biasanya saya isi dengan mengirim surat lamaran pekerjaan.
Sehari-harinya saya lalui dengan kegiatan seperti halnya saya tinggal di desa. Salah satunya solat di masjid. Ternyata sudah menjadi image bahwa sebagian masjid itu keamanannya tidak terjamin. Setelah beberapa kali solat di masjid, Innalillahi….sandal saya hilang. Ya terpaksa saya harus pulang tanpa sandal. Tentu saja solusinya harus membeli sandal baru. Tentu dengan musibah itu tidaklah menyurutkan niat untuk solat lagi di masjid. Setelah beberapa kali solat, Masya Allah…..sandal saya hilang lagi. Ya mau diapakan lagi kalau sudah hilang. Ya beli sandal lagi tentunya. Belum sebulan tinggal di Surabaya sudah kehilangan sandal dua kali. “Mungkin itu pertanda kamu akan sukses” hibur teman saya. Setelah hampir sebulan saya di Surabaya, saya tidak lagi bisa mengirimkan surat lamaran karena sudah tidak ada lagi lowongan yang sesuai dengan pengalaman dan keahlian saya. Oh nasib!
Dari sekian banyak surat lamaran yang saya kirim, Alhamdulillah, ada perusahaan yang menghubungi saya untuk mengikuti tes interview. Di sela-sela interview itu saya  menyempatkan solat duhur di masjid Al Akbar Surabaya. Setelah solat saya berjalan di serambi masjid. Melihat lihat informasi. Pada papan pengumuman ada informasi lowongan pekerjaan. Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Al Hikmah mencari beberapa orang guru bidang studi. Melihat persyaratannya kualifikasi saya masuk kecuali “sudah menikah”. Ya sudah saya simpan alamatnya di HP Nokia  3315 saya. Saya pun berfikir “Masak saya jadi guru lagi? Lembaga ini tidak jauh beda dengan lembaga tempat saya mengajar sebelumnya. Boleh jadi gajinya ya segitu gitu saja. Ya sudahlah.
Waktu pun berlalu. Perusahaan yang sempat mewawancarai saya akhirnya menghubungi saya untuk mengikuti training sebagai bagian rangkaian seleksi. Maka ikutlah saya training beberapa hari di kota Batu. Setelah pelatihan usai saya bertanya pada panitia “Kapan kami akan dipekerjakan?”. Panitia menjawab bahwa dalam waktu dekat akan dihubungi lewat telephon. Jika tidak dihubungi berarti peserta tidak lolos.
Merasa kesempatan untuk bekerja semakin kecil, sempat terbersit dalam pikiran saya untuk bekerja sebagai apapun. Jadi office boy pun tidak masalah, asal saya bisa bekerja. Tapi apa ya tidak malu. Sarjana dobel dobel kok jadi office boy. Maka saya buka kembali HP saya. Saya lihat kembali alamat YLPI Al Hikmah. Saat itu waktu pengiriman lamaran sudah tinggal sehari. Maka malam itu saya segera membuat surat lamaran untuk saya kirimkan keesokan harinya.
Gayungsari adalah alamat YLPI Al Hikmah. Merasa saya mengenal daerah itu dan mengingat waktu pengiriman mendekati batas akhir, maka saya tidak mengirimkan lewat kantor pos. Surat itu saya bawa langsung ke alamat surat.
Ya Allah kok sepi begini ya. Mungkin ini rumah ketua yayasannya. Saya ucapkan salam namun tiada jawaban. Karena niat dan tujuan saya memasukkan surat lamaran, maka surat itu tetap harus sampai ke alamat yang ada. Ya sudah saya masukkan saja ke dalam kotak surat yang menempel di pintu gerbang. Masya Allah! Suratnya tidak masuk karena amplopnya ukuran folio. Ya sudah saya letakkan di atasnya saja. Lalu saya pergi meninggalkan tempat itu. Biar sajalah. Semua terserah Allah mau diapakan surat itu. Pokoknya saya pasrah saja.
Waktu pun berlalu. Seminggu sudah saya tiada punya kegiatan selain kluyuran tidak jelas. Tiba tiba ada panggilan telephon masuk ke HP saya. “Asalamu alaikum! Ini benar Bapak Eko Agus Widjaja? Ini dari YLPI Al Hikmah. Surat lamaran Bapak sudah masuk ke kami dan memenuhi syarat untuk tes wawancara. Bapak kami minta datang besok pagi di alamat Jalan Gayungsari IV nomer 25. Lokasinya dekat masjid Pak”. Begitulah kira kira suara itu saya dengar. Alhamdulillah ada panggilan.
Keesokan harinya sesuai dengan permintaan, saya mempersiapkan diri kemudian menuju ke lokasi. Dengan sepeda motor pinjaman saya menuju ke alamat dimana saya memasukkan surat dahulu. Setelah merapikan diri di belakang masjid Al Akbar Surabaya, saya langsung meluncur ke Jalan Gayungsari IV nomer 25.
Akhirnya sampailah saya di lokasi saya memasukkan surat. Ternyata rumah itu sepi seperti dahulu. Kok sepi ya? Apa belum dimulai acaranya. Kan ini tepat jam 8. Saya tunggu barang sebentar. Merasa asing dengan suasana sepi itu saya memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang tukang becak yang ngetem tidak jauh dari sana. Ketika saya tanya apakah ini benar kantor YLPI Al Hikmah, Jalan Gayungsari IV nomer 25, maka tukang becak itu menjawab bukan. Kalau ini gang 2. Lalu? Mas terus saja ke utara lalu belok kiri. Lurus saja sampai ada masjid. Nah di depan masjid itu kantornya Al Hikmah.
Allohu Akbar! Masya Allah…. Dulu kan saya memasukkan surat ke sini. Tapi kok saya bisa di panggil. Allahu Akbar! Ternyata Allah yang telah menolong saya melalui pemilik rumah gang 2 tadi. Sungguh, ini adalah karunia besar yang saya terima. Allah telah mengenalkan saya pada Al Hikmah dengan caraNya yang luar biasa yang saya tidak habis pikir bisa seperti itu. Dan waktu terus bergulir sehingga sampai akhirnya saya bisa mengikuti seluruh tes seleksi dan diterima di YLPI Al Hikmah. Subhanallah!
Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih memiliki komitmen yang kuat untuk menjadi bagian dari lemabaga dakwah Al Hikmah tercinta. Semoga saya bisa memberikan karya terbaik bagi Allah SWT melalui Al Hikmah. Amin!
Apapun yang terjadi dalam perjalan hidup saya semuanya adalah kehendak Allah. Dan kehendak Allah itu sudah betul, tidak salah. Yang saya rasakan tidak enak sudah betul menurut Allah. Yang tidak enak juga sudah betul. Ah… hidup saya ini memang serba kebetulan, bukan serba kesalahan. Terima kasih ya Allah! Engkau sudah betul dalam mengatur skenario hidupku. I love You!

HAJJ EXPERIENCE (TMT GRADE 8)

“Isn’t this a beautiful hotel?” she said her etched face spoke of pain and suffering she had endured, but her shiny eyes spoke of resilience and acceptance. “Yes, it is,” I said praying my voice did not reveal the truth that I and my privileged party coming from California were about ready to walk over and file a complaint with our travel agent for poor accommodations. This was the filthiest hotel any of us had ever seen. I looked over to my sister who was also performing Hajj, the year was 2004, and we both stood there looking at this woman and feeling ashamed that we had lost sight of the reason we were there.
Each person’s Hajj experience is phenomenally different. Yet the principles of Hajj are the exact same for everybody. The intention for Muslims is to perform this pillar of the religion, going to Mecca, at least once before they die. I was young, 27 years of age, compared to the ages around me, people of 40, 50, and older. Most wait to perform Hajj later in life, some wait to first perfect all other pillars such as fasting and praying, while others wait to save for the expensive trip, I was given the trip as a gift by my husband. With that point said, and as anything in life when handed to you, one simply takes it for granted. I sadly and humbly regret that I went with an immature eye and heart. However being a writer I did make numerous observations about those that were performing Hajj and I had more than a few memorable moments.
First, passion, people wanted to fulfill every step of the Hajj to perfection. I received the greatest opportunity to touch the Kaaba, crossing between brute burly men that were elbowing and jostling to try to come close to the cube; my party felt a surge of adrenalin and purpose. Armed guards stood at the very front of the Kaaba and when we, a group of California Muslim women, came close they asked us to leave a few times before they realized we weren’t going anywhere and allowed us to touch and kiss the Kaaba. It was at that moment that I felt a surge of something moving inside me, not so much that I was so near the cube draped in the finest black cloth, but that I was touching the symbol I have spent all my years facing and praying towards. The Kaaba is the most sacred site in Islam. The Quran states the Kaaba was constructed by Abraham and his son Ishmael, as ordered of them by God over 1400 years ago. The cube has a mosque built around it. All Muslims around the globe face the Kaaba during the five prayers, every day. I later looked back and realized what brave women we were to get through the chaos of those circling the Kaaba and those that have spent their entire lives waiting to touch the sacred cube. We held hands tight and quickly forced our way away from the crowds and to the safety of the outskirts where we could gaze on the beauty of the cube from afar.
The second thing I noticed was charitable people, who were so giving of themselves. I injured my ankle while walking around the Kaaba, you are required to walk seven times around the Kaaba in a counter clockwise direction, this is done numerous times. A crowd of different colors and nationalities that were all devoid of any socioeconomic markers came to help. Men during Hajj wear two pieces of white cloth. Women usually wear simple modest clothing. Those people that encircled me could of ranged from peasants to princes and I will never know anything about them but their kindness.
Lastly, I was touched by the humility people exuded, weeping big gasping echoing sobs for forgiveness, pain, regret, and strength seeking it only from their lord. I want to say that through these observations Hajj did change me. I did learn so much about my physical and emotional abilities, and I got a rare glimpse of people behaving at their best.

Written by : Ghada Bedai. Ghada was born in Cairo, Egypt and lived there to the age of four before coming to the United States at such a young age. She feels immensely blessed that she has been immersed in the traditions of a different culture, and able to tap into another world in her creative endeavors. She finds that her children inspire her by the simplicity that they perceive the world. From that, she is able to let go of her complex views and see the world simply as it is.

Tuesday, January 22, 2013

AYO MENCINTAI NABI MUHAMMAD SAW

Pagi ini saya sampaikan pada anak-anak saya di kelas tentang Nabi Muhammad SAW yang pada tanggal 12 Robiul Awal diperingati hari kelahiran beliau. Kami baca surah Al Fiil dan sholawat untuk mengenang dan mendoakan serta memuji beliau. Anjuran saya : Perbanyaklah baca sholawat buat belaiu. Semoga kita dapat syafaat beliau di hari qiyamat.

Saya sampaikan pada anak-anak bahwa Rosulullah SAW sangat peduli pada kita semua. Pada kalian semua ummatnya. Ketika beliau mau wafat beliau sebut ummatnya. Kelak ketika beliau dibangkitkan pun yang dicari juga ummatnya. Subhanallah! Alangkah cintanya beliau pada kita semua. Maka sangat wajib bagi kita untuk mencintai beliau SAW.

Anak anakku yang tercinta….

Alquran dan Assunah adalah pedoman hidup orang Islam. Kalau kita memperhatikan keduanya, alngkah tebalnya. Seakan terasa sulit untuk melaksanakan ajaran agama. Tidak! Tidaklah susah. Jangan melihat tebalnya sumber hukum itu. Lakukan saja apa yang sudah kita terima dari para guru kita. Setiap kali beraktifitas, selalu kaitkan dengan perilaku Nabi Muhammad SAW. Bagaimana Rosulullah SAW bangun tidur, masuk keluar kamar kecil, makan minum dan lain lain. Dengan begitu kita sudah termasuk orang yang mencintai Nabi SAW karena meniru perilaku beliau yang baik baik itu. Ayo! Tirulah perilaku beliau. Insya Allah kalian akan selamat.

Dengan cara seperti itu semoga tumbuh rasa cinta yang mendalam kepada Sayyidina Muhammad SAW. Kalau kita mencintai sesama, mungkin hanya beberapa tahun saja. Tapi kecintaan ummat kepada Nabi Muhammad SAW akan berlaku sepanjang masa. Sudah lebih dari 1400 tahun ummat masih mencintai beliau. Jangan berhenti mencintai beliau. Senandungkan selalu sholawat. Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi washohbihi ajma’iin. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin. Amin!